perilaku sosial antar kelompok pelajar

Posted: 5 Oktober 2012 in TUGAS campus

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    LATAR BELAKANG

Pelajar yang sedang menempuh pendidikan di SLTP maupun SLTA, bila ditinjau dari segi usianya, sedang mengalami periode yang sangat potensial bermasalah. Periode ini sering digambarkan sebagai storm and drang period (topan dan badai). Dalam kurun ini timbul gejala emosi dan tekanan jiwa, sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Dari situasi konflik dan problem ini remaja tergolong dalam sosok pribadi yang tengah mencari identitas dan membutuhkan tempat penyaluran kreativitas. Jika tempat penyaluran tersebut tidak ada atau kurang memadai, mereka akan mencari berbagai cara sebagai penyaluran. Salah satu eksesnya, yaitu “tawuran”. .
.“Tawuran” mungkin kata tersebut sering kita dengar dan baca di media massa. Bagi warga Jakarta, aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Saat ini beberapa televisi bahkan membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan. Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, bahkan di kompleks-kompleks perumahan. Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kita semua.
Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok. Agresi itu sendiri menurut Murray (dalam Hall & Lindzey, Psikologi kepribadian, 1993) didefinisikan sebagai suatu cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh,atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain.
Banyaknya tawuran antar pelajar di kota-kota besar di Indonesia merupakan fenomena menarik untuk dibahas dan di beri jalan keluar (kesimpulan) untuk mengatasi masalah tawuran pelajar.

 

 

  1. 2.    TUJUAN

Untuk mengetahui peran Serta keharmonisan keluarga, guru dan Pemerintah terhadap kecenderungan kenakalan remaja khususnya Tawuran antar pelajar dan cara mengatasi Tawuran antar pelajar.

 

  1. 3.    SASARAN

semua pihak untuk merangkul generasi muda bangsa agar kriminalitas dan sikap anarki tidak di akan terjadi. Dan bangsa ini menjadi bangsa yang tentram dan aman. Sehingga anak mudanya pun berubah menjadi postif dan berprestasi.

 

 

BAB II

PERMASALAHAN

 

Analisis permasalahan “perilaku sosial tawuran antara kelompok pelajar” dengan memperhatikan dan mempertimbangkan  kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :

  1. 1.      Kekuatan (Strength)

 

  1. Rasa nasionalisme dan solidaritas yg tinggi
  2. Mencari sensasi agar dilihat orang sebagai pemberani
  3. Tidak ada hukuman pidana (hanya kenakalan remaja saja)
  4. Adanya pengaruh obat-obatan dan alkohol

 

  1. 2.      Kelemahan (Weakness)
  2. Pengaruh budaya
  3. Ketidak pedulian masyarakat
  4. Kelemahan dalam sistem pendidikan
  5. Kurangnya ke harmonisan dalam keluarga

 

  1. 3.      Peluang (Opportunity)
  2. Adanya saling ejek
  3. Sekolah berdekatan dan mempunyai dendam lama
  4. Pada saat hari jadi sekolah

 

  1. 4.      Tantangan/Hambatan (Threats)
  2. Dikejar-kejar polisi
  3. Masuk penjara, rumah sakit, bahkan kuburan
  4. Adanya hukuman dari pihak sekolah
  5. Adanya menghujat diri mereka

 

 

 

 

 

 

  1. 5.      Faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar
  2.  Faktor Internal

Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar.

  1. Faktor eksternal seperti :
  • Faktor keluarga

Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. ketidak harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan  yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.

  • Faktor sekolah

hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya  disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik yang memiliki kepribadian yang baik.

  • Faktor lingkungan

Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.

 

  1. 6.      Dampak karena tawuran pelajar

 

a.       Kerugian fisik, pelajar yang ikut tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu

cedera ringan, cedera berat, bahkan sampai kematian

b.      Masyarakat sekitar juga dirugikan. Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar

yang tawuran itu melempari batu dan mengenai rumah warga

c.       Terganggunya proses belajar mengajar

d.      Menurunnya moralitas para pelajar

e.       Hilangnya perasaan peka, toleransi, tenggang rasa, dan saling menghargai

 

 

BAB III

PENYELESAIAN

 

  1. 1.    Cara mengatasi tawuran pelajar :
    1.  Memberikan pendidikan moral untuk para pelajar
    2. Menghadirkan seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya  seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar untuk selalu bersikap baik
    3. Memberikan perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati

diri

  1.  Memfasilitasi para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk      melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat  diwaktu luangnya. Contohnya  : membentuk  ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler disekolahnya

 

  1. 2.        Mengurangi tawuran remaja :
  2. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun
  3. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
  4. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

1. Kesimpulan

Faktor yang menyebabkan tawuran remaja tidak lah hanya datang dari individu siswa itu sendiri. Melainkan juga terjadi karena faktor-faktor lain yang datang dari luar individu, diantaranya faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan.

 

Para pelajar yang umumnya masih berusia remaja memiliki kencenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang mana kemungkinan dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, maka inilah peran orangtua dituntut untuk dapat mengarahkan dan mengingatkan anaknya jika sang anak tiba-tiba melakukan kesalahan. Keteladanan seorang guru juga tidak dapat dilepaskan. Guru sebagai pendidik bisa dijadikan instruktur dalam pendidikan kepribadian para siswa agar menjadi insan yang  lebih baik.

 

Begitupun dalam mencari teman sepermainan. Sang anak haruslah diberikan pengarahan dari orang dewasa agar mampu memilih teman yang baik. Masyarakat sekitar pun harus bisa membantu para remaja dalam mengembangkan potensinya dengan cara mengakui keberadaanya.

 

  1. 3.    Rekomendasi

 

Dalam menyikapi masalah remaja terutama tentang tawuran pelajar diatas, penulis memberikan beberapa saran. Diantaranya :

a.    Keluarga sebagai awal tempat pendidikan para pelajar harus mampu membentuk pola pikir yang baik untuk para pelajar

b.   Masyarakat mesti menyadari akan perannya dalam menciptakan situasi yang kondusif

c.    Lembaga pendidikan formal sudah semestinya memberikan pelayanan yang baik untuk membantu para pelajar mengasah kemampuan dan mengembangkan segala potensi yang ada didalam dirinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s