kelompok sosial anak punk

Posted: 19 Oktober 2012 in TUGAS campus

BAB 1

PENDAHULUAN

 1.    LATAR BELAKANG

Komunitas anak punk adalah sebuah fenomena sosial yang tengah mewabah di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Mereka berada di pusat-pusat kota dengan penampilannya yang ekstrim. Rambut mohawk ala suku Indian (rambut paku) dengan warna-warni yang terang/menyolok, sepatu boots, rantai dan spike (gelang berduri), body piercing (tindik), jaket kulit, celana jeans ketat, baju yang lusuh, atau t-shirt hitam, membuat setiap mata yang memandang merasa ganjil, curiga dan menyeramkan.

Berbagai kesan dan stigma negatif masyarakat ditujukan terhadap komunitas anak muda ini. Mereka dianggap kriminal, preman, brandal, perusuh, pemabuk, pengobat, urakan, dan orang-orang yang dianggap berbahaya. Hampir di setiap kota, keberadaan komunitas anak punk dipandang sebagai masalah yang meresahkan, sehingga upaya merazia mereka dilakukan dimana-mana dengan alasan mengganggu ketertiban umum.

Kini jumlahnya semakin bertambah. Menurutnya, kebanyakan anak punk ini memang terlalu mengikuti model dan gaya hidup yang bebas. Mereka ingin menjalani hidup tanpa ikatan dan aturan. Anak punk juga dianggap memilih jalan hidup dan prinsip yang salah dan berbeda dari manusia pada umumnya. Ketika pemerintah akan membina mereka supaya kembali ke jalan yang benar, anak punk ini tak mendengarkan perkataan orang tua, guru, dan nasehat dari orang lain.

kehidupan anak punk banyak di malam hari. Mereka pulang ke rumah siang dan tidur. Saat malam tiba, mereka pun ke luar dari rumah bersama-sama temannya. Ada keanehan yang dialami gerombolan punk. Mereka tak bekerja, tapi ada uang. Bahkan pulsa handphone selalu ada. ”Saya juga jadi bingung dari mana mereka dapat duit.”

keberadaan anak-anak pengamen di pinggir jalan bergaya aliran musik punk, bukti salah pembinaan orang tua. Anak-anak itu bukan kalangan orang susah, cuma saja salah pembinaan dari para orang tua mereka masing-masing. Kalangan orang tua, sebaiknya melakukan pembinaan anak-anaknya agar jangan terlalu bebas dan menjadi pengamen dipinggir-pinggir jalan, kurang baik dari pandangan orang asing. Kalau cara demikian terus menerus terjadi di pinggir jalan sebagai pengamen dan jauh dari kontrol orang tua, lama-lama bisa terarah ke sifat negatif. Mereka harus dibina agar mereka nantinya hidup layak dan tidak menjadi pemuda nakal masa akan datang.

Berdasarkan pernyataan di atas, keberadaan anak punk yang mengamen ini merupakan masalah yang bisa berakibat negatif dan perlu pembinaan, baik dari orang tua maupun pemerintah (Depsos).

Pernyataan lainnya, bahwa mereka bukan dari kalangan orang susah, ada benarnya. Kenyataannya saat ini, komunitas anak punk berasal dari berbagai kalangan. Sebagian anak punk berasal dari keluarga mampu, bahkan ada dari keluarga pejabat. Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang perlu dicermati. Jika memang mereka orang mampu, mengapa sampai turun ke jalanan. Apa yang melatarbelakanginya ? atau apa sesungguhnya yang mereka cari ?. Jawabannya bisa karena berbagai alasan, namun ini bisa juga menjadi salah satu alasan kita untuk memahami eksistensi punk yang sebenarnya.

Komunitas yang satu ini memang sangat berbeda dan unik. Komunitas anak punk merupakan bagian dari kehidupan dunia underground. Mereka tidak hanya sekedar sekelompok anak muda dengan busana yang ekstrim, hidup di jalanan dan musik yang keras, tetapi yang mendasar adalah mereka mempunyai ideologi politik dan sosial. Kehadiran mereka adalah perlawanan terhadap kondisi politik, sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat.

Salah satunya, seperti terlihat pada pesan politik yang dicoretkan anak punk Bandung di tembok kantor di simpang Jl. Merdeka dan Jl. R.E. Martadinata, “Bubarkan Negara” , “Pemerintah = Racun” , “Negara = Racun”, dan “Keraskan Kepala”. Pesan-pesan yang mengerikan, seperti pernah digulirkan Carl Marx, yang membuat bulu kuduk berdiri.

Mereka akan terus berjuang dan mengobarkan slogan, ”punk not dead”. Punk tidak mati. Punk akan selalu hidup selama politik ada di muka bumi ini. Punk akan hidup selama penindasan belum berakhir. Selama ada kesenjangan dalam masyarakat, ketidakadilan, pengekangan kreativitas, perampasan hak-hak, punk akan tetap ada. Inilah prinsip yang akan selalu dipegang teguh oleh para punker sejati.

Barangkali karena slogan tersebut komunitas punk terus berkembang dari hari ke hari. Di Indonesia sendiri, perkembangan komunitas punk yang mulai marak pada pertengahan tahun 90-an mencatat prestasi yang luar biasa. Konon komunitas punk di Indonesia merupakan komunitas dengan populasi terbesar di dunia. Profane Existence, sebuah fanzine asal Amerika menulis negara dengan perkembangan punk yang menempati peringkat teratas di muka bumi adalah Indonesia dan Bulgaria.

Dari uraian di atas, rasanya sudah saatnya kita semua memberi perhatian bagi komunitas yang sedang melanda bangsa ini. Sekarang marilah kita sedikit pahami mengenai komunitas punk tersebut, agar kita sama-sama mengerti akan keberadaan dan sepak terjangnya.

2.    Tujuan penelitian

  1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah ilmu sosial dasar
  2. Mengetahui konsep diri anggota komunitas punk
  3. Menambah wawasan tentang pengertian dan gaya hidup anak punk
  4. Untuk menambah wawasan dalam menghadapi kelompok sosial dalam masyarakat.
  5. Mengenal lebih dekat komunitas “Punk”.
  6. Mengidentifikasi kebutuhan (needs) komunitas “Punk”.

3.    Sasaran penelitian

Semua pihak untuk merangkul generasi muda agar keriminalitas dan pergaulan yang salah tidak akan terjadi. Dan bangsa ini menjadi bangsa yang tentram dan aman. Sehingga anak mudanya pun berubah menjadi positiv dan berprestasi.

BAB II

PERMASALAHAN

 

Analisis permasalahan Kelompok sosial anak punk dengan memperhatikan dan mempertimbangkan  kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :

1.      Kekuatan (Strength)

1. Adanya rasa frustasi

Karena adanya permasalahan yang tidak di ceritakan (hanya di pendam) akan menjadi tertekanan hati sendiri, sehingga menjadi frustasi dan berusaha untuk melupakan permasalahan tersebut dengan cara yang salah.

2. Penampilan ghotik

Faktor penampilan ini salah satu kekutan mereka, dengan gaya ghotik, pakaian hitam, rambut mohak dan tindikan di mana-mana. Membuat mereka terlihat sangar dan di segani.

3. Tidak ada hukuman pidana

Tidak adanya hukuman di karenakan komunitas anak punk ini sebagai seni, bukan kejahatan.

4. Adanya pengaruh obat-obatan dan alkohol

Obat-obatan dan alkohol ini yang membuat mereka tampil percaya diri dan berani.

2.      Kelemahan (Weakness)

1. Ketidak pedulian

Karena mereka merasa tidak adanya perhatian dan kepedulian masayarakat dan keluarga.

2. Tidak adanya rasa cinta dan kasih sayank

Kelemahan ini faktor utama kelemahan anak punk karena menurut mereka cinta itu sudah tiada. Karena sebagian anak punk kurangnya perhatian dan rasa kasih sayank.

Stigma masyarakat

Stigma yang negativ membuat mereka lemah dan membenci sehingga menjadi sifat anarki.

  1. Kelemahan pendidikan

Pendidikan merka yang kurang sehingga mereka tidak mengerti apa-apa.

  1. 3.      Peluang (Opportunity)
    1. Adanya budaya barat

Budaya barat yang salah dan negativ mebuat banyaknya kesalah fahaman pergaulan.

  1. Adanya musik-musik yang beraliran keras

Musik sebagai ciri ekspresi diri, musik yang beraliran keras adalah ciri fisik yang mempunyai gaya punk.

  1. Broken home

Adanya masalah dalam suatu keluarga, dapat menjadi dorongan untuk berbuat negativ dan  bergaul yang salah.

d. Faktor lingkungan

Lingkungan sekitar dapat mempengaruhi kehidupan masing-masing orang. Sehingga baik ataw buruknya lingkungan sangat menjadi peran penting dalam kehidupan sehari-hari.

  1. 4.      Tantangan/Hambatan (Threats)
  2. Di kerjar-kejar satpol pp

Kelompok ini sangat rawan di kejar-kejar satpol pp karena penampilan yang berandal dan membuat masayarakat resah.

  1. Di tangkap polisi

Karena meresahkan masyarakat anak punk sering kali berurusan dengan polisi, polisi menangkap anak punk agar di didik di bina agar menjadi pemuda yang berbudi pekerti yang luhur.

  1. Adanya menghujat diri mereka

Sikap menghujat dari masyarakat menjadi tantangan batin diri mereka.

  1. Jauh dari keluarga

Jauh dari keluarga dan tidak adanya rasa kasih sayank mebuat mereka merasa sebatang kara.

BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Kesimpulan

a. kekuatan yang mendorong mereka menjadi punk karena berbagai macam faktor, seperti : faktor budaya, keluarga, dan lingkungan.

b. gaya mereka yang berciri khas ghotik dan aliran musik merek keras. Itu bagian dari expresi diri.

c. stigma yang memojokan mereka membuat mereka geram dan benci terhaap lingkungannya, sehingga menjadi anarki dan dapat meresahkan masyarakat.

d. anak punk adalah generasi muda yang harus di didik agar menorehkan prestasi bangsa

 

2. Rekomendasi

  1. Pendidkan sedini mungkin agar anak-anak generasi bangasa tidak menjadi salah pergaulan.
  2. Gemblengan ke pada anak punk agar bersosialisasi secara positif
  3. Wadah atau tempat berkumpul di siapkan bahan pembelajaran agar dapat berkreatifitas
  4. Beri penghargaan bagi anak-anak punk yang berprestasi, agar anak-anak punk yang lain bangga dan bisa mengikuti prestasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s